Tuesday, November 15, 2005



Kalam Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz

Berkata Habib Ali Alhabsyi,

Tuhanku pemilik sifat-sifat yang tinggi nan Luhur
Aku berdiri di halamanMu berharap karuniaMu
Di bawah pintu pengharapanMu, 'ku bersimpuh dengan dzully (kerendahan
diriku)

Dzull...merasa rendah diri di hadapan Allah merupakan kebanggaan kita secara khusus, sekaligus kebanggaan umat ini secara umum. Lantas siapa di antara kita yang menaklukkan malam-malamnya untuk memperoleh dzull ini dan mensejatikan haqiqatnya?. Peninggalan keluarga kita tersia-sia di sebuah lembah, sementara kita menertawakan diri sendiri, bahkan ditertawakan oleh musuh-musuh kita!. Setiap saat muncul buku-buku, majalah, ide dan pemikiran, namun adakah makna kesungguhan terhadap Allah?

Berapa usia salah seorang di antara kalian, baik dari kalangan Ba'alawi ataupun ahlul kheir, yang dipergunakan untuk melewati malam-malamnya tanpa tidur demi memperoleh dzull di hadapanNya?. Shalat-shalat fardhu sekalipun, hatimu tidak pernah hadir di dalamnya, hanya terfokus memikirkan kepentingan yang engkau bawa. Adakah yang lebih utama dari Tuhanmu, yang lebih penting dari perbaikan dirimu?

"Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka akan Dia bukakan pandangan hatinya terhadap aib dirinya dan Dia tutup aib orang lain."

"Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, niscaya Dia bukakan pintu amal kebajikan dan Dia tutup pintu perdebatan. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba, akan Dia tutup pintu amal kebajikan dan akan Dia buka pintu perdebatan."

Habislah umurnya hanya dalam perdebatan. Dikubur akan ditanya tentang perdebatan tersebut. Di hari kiamat akan dimintai pertanggungan jawab atas perdebatan itu. Karena sesuatu yang menyibukkan dirinya dalam kehidupannya, akan merepotkannya setelah kematiannya.

Barang-barang yang ada pada kalian sangat mahal, sangat berharga tiada yang membandinginya.

Di bawah pintu pengharapanMu, 'ku bersimpuh dengan dzully (kerendahan diriku)

Adakah yang berani memberi komentar terhadap wajah-wajah ini (seraya menunjuk ke arah foto-foto habaib yang terpampang di dinding)?. Foto-foto mereka mengingatkanmu kepada Allah. Masih perlukah kita mencari manhaj dan thariqah selain manhaj dan thariqah mereka?. Siapa di dunia sekarang ini yang bisa menyamai mereka?. Pantaskah kita tertipu hanya dengan simbol-simbol dunia yang semenjak dari zaman Nabi dunia ini dipenuhi oleh simbol-simbol tersebut yang mengecoh umat manusia?

[Terjemahan ceramah Al-Habib Umar Bin Hafidz, penerjemah Ust. Ahmad Idris, Jakarta, 1998]